Dari Sebuah KURMA Menjadi Ruang Cerita dan Persaudaraan

Dari Sebuah KURMA Menjadi Ruang Cerita dan Persaudaraan
Suasana Pada Kegiatan Kumpul Ramadhan Anak Komunitas.

Jakarta - Anak muda dari berbagai komunitas berkumpul untuk merayakan Ramadhan bersama dalam sebuah kegiatan bernama KURMA (Kumpul Ramadhan Anak Komunitas). Kegiatan ini diinisiasi oleh Ruang Rasa dan GPF Indonesia sebagai sebuah ruang aman dan nyaman bagi anak muda untuk berkumpul, berdialog, dan berkembang bersama.

KURMA menjadi tempat bagi para peserta untuk berbagi kisah-kisah yang selama ini mungkin terpendam dalam hati mereka. Melalui ruang yang hangat dan penuh kepercayaan, cerita-cerita tersebut akhirnya dapat dibagikan dengan nyaman dan aman kepada sesama anak muda yang hadir.

Selain sesi berbagi cerita, para peserta juga mengikuti workshop yang dipandu oleh Muhammad Mahmudi, yang akrab disapa Mas Mudi. Parwin Salma, pemudi Jemaat Muslim Ahmadiyah, mengatakan bahwa dalam beberapa momen, kesalahpahaman sering terjadi. Sehingga, memiliki mindset yang berkembang dan mengetahui cara menyampaikan perasaan atau pemikiran masing-masing individu sangat penting.

Maka dari itu, dalam workshop kali ini, Mas Mudi mengajak peserta memahami konsep Growth Mindset serta mengikuti Practice Lab: simulasi respons asertif terhadap ancaman lisan maupun tulisan. Materi disampaikan dengan cara yang ringan, interaktif, dan mudah dipahami, sangat sesuai dengan karakter peserta yang berada pada rentang usia 17–35 tahun.

Keceriaan workshop semakin terasa ketika peserta memainkan Spin & Speak Card edisi Feedback, sebuah permainan kartu yang dikembangkan oleh tim GPF Indonesia. Melalui permainan ini, peserta diajak untuk belajar bagaimana memberikan dan menerima feedback dengan lebih terbuka, reflektif, dan konstruktif. Kartu-kartu tersebut membawa banyak cerita baru ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Menurut Mas Mudi, pemberian feedback yang konstruktif memang terkesan menyakitkan hati. Namun, juga perlu diketahui bahwa pemberian feedback yang konstruktif dapat menjadi sebuah informasi baru yang dapat diketahui oleh penerima feedback sehingga orang tersebut dapat melihat sisi yang biasanya tidak dapat kita lihat sebelumnya.

Setelah berbagai sesi refleksi dan pembelajaran, tibalah momen yang paling ditunggu: buka puasa bersama. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam kegiatan buka bersama kali ini. Peserta diminta untuk berbuka puasa dengan orang yang berasal dari komunitas yang berbeda dari mereka. Melalui cara sederhana ini, percakapan baru pun tercipta, memperluas pertemanan, sekaligus membangun dialog lintas komunitas yang dimulai dari aktivitas yang paling sederhana: makan bersama.

Menurut Rafi, salah satu peserta acara KURMA kemarin, ia bisa bertemu orang baru dan menambah relasi juga selama acara. Pembicaranya juga asyik, jadi selama mengikuti acara ia tidak merasa bosan.

Ketika acara mendekati akhir, suasana hangat yang telah tercipta membuat perpisahan terasa tidak mudah. Banyak peserta membagikan kesan dan pengalaman mereka melalui media sosial, menuliskan bagaimana ruang kecil bernama KURMA mampu menghadirkan rasa aman, pertemanan baru, serta percakapan yang bermakna.

Kehangatan itu tidak berhenti ketika acara selesai. Ia berlanjut melalui kenangan, refleksi, dan pesan-pesan yang dibagikan oleh para peserta—menjadi pengingat bahwa ruang dialog yang aman masih sangat dibutuhkan oleh anak muda hari ini.

Semoga, di tengah berbagai ketidaknyamanan yang masih terjadi di dunia ini, Tuhan tetap mempertemukan kita dalam ruang-ruang sederhana yang menghadirkan dialog, kehangatan, dan harapan—seperti yang terjadi dalam KURMA.